Pelaksanaan
kegiatan pembangunan desa melalui Dana Desa Tahun Anggaran 2025 di Kabupaten
Pohuwato menunjukkan progres yang cukup signifikan, baik pada bidang Sarana dan
Prasarana (Sarpras) maupun bidang Non Sarana dan Prasarana (Non Sarpras).
Secara umum, capaian realisasi pelaksanaan kegiatan di seluruh kecamatan berada
dalam kategori baik, meskipun
terdapat beberapa wilayah yang masih perlu mendapatkan perhatian khusus.
Pada bidang Sarana dan Prasarana, realisasi
kegiatan tersebar di 13 kecamatan dengan persentase yang bervariasi. Kecamatan
Wanggarasi menjadi wilayah dengan realisasi tertinggi mencapai 99,44%, Taluditi dengan capaian 98,38%, serta Patilanggio yang
menorehkan progres 94,43%. Hal ini
menunjukkan bahwa kecamatan-kecamatan tersebut mampu melaksanakan kegiatan
fisik secara efektif dan tepat waktu sesuai perencanaan.
Kecamatan Marisa
dan Paguat juga mencatatkan angka realisasi yang tinggi, masing-masing 92,70%
dan 90,22%, sementara Lemito mencatat realisasi 90,31%. Pada kategori menengah,
beberapa kecamatan seperti Randangan (80,31%), Duhiadaa (84,50%), Buntulia
(74,63%), Popayato (69,09%), Popayato Timur (62,36%), dan Popayato Barat
(66,72%) menunjukkan pelaksanaan yang cukup baik walaupun masih terdapat ruang
evaluasi dan penyempurnaan. Namun demikian, Kecamatan Dengilo menjadi wilayah
dengan capaian terendah, yaitu 30,32%, sehingga memerlukan perhatian dan
intervensi percepatan dalam pelaksanaan kegiatan Sarpras.
Dari seluruh
data tersebut, rata-rata realisasi Sarpras Kabupaten Pohuwato tercatat sebesar
83,19%, yang menunjukkan bahwa pembangunan fisik di tingkat desa telah berjalan
pada kategori baik dan sesuai target umum kabupaten.
Sementara itu,
pelaksanaan kegiatan pada bidang Non
Sarana dan Prasarana menunjukkan capaian yang cukup bervariasi di setiap
kecamatan. Kecamatan Wanggarasi kembali mencatat realisasi tertinggi, yaitu
89,46%, diikuti Kecamatan Duhiadaa (88,08%) dan Lemito (82,54%). Kecamatan
Popayato Timur juga menunjukkan capaian tinggi dengan 82,00%, disusul Paguat
(78,86%) serta Patilanggio (76,39%).
Beberapa
kecamatan memiliki capaian pada kategori menengah, yakni Randangan (74,40%),
Dengilo (72,28%), Marisa (67,75%), dan Popayato (64,83%). Kecamatan Taluditi
(63,41%) dan Popayato Barat (61,06%) berada pada kategori cukup, sedangkan
Buntulia mencatat capaian terendah, yakni 49,61%, sehingga perlu dilakukan
evaluasi teknis maupun administratif untuk peningkatan kinerja pada pelaksanaan
kegiatan Non Sarpras.
Secara
keseluruhan, realisasi Non Sarpras Kabupaten Pohuwato mencapai 73,24%,
menunjukkan bahwa pelaksanaan program pemberdayaan, peningkatan kapasitas
masyarakat, ketahanan pangan, serta kegiatan sosial non-fisik berjalan cukup
baik, meskipun belum seoptimal Sarpras.
Berdasarkan
gabungan total capaian Sarpras dan Non Sarpras, maka persentase realisasi
keseluruhan Kabupaten Pohuwato Tahun 2025 mencapai 75,29%. Angka ini
menggambarkan bahwa sebagian besar perencanaan program pembangunan desa dapat
direalisasikan dengan baik. Namun demikian, adanya beberapa kecamatan dengan
capaian rendah mengindikasikan perlunya penguatan koordinasi, peningkatan
kapasitas pelaksana kegiatan, serta pendampingan lebih intensif untuk
memastikan capaian pembangunan dapat merata di seluruh wilayah Kabupaten
Pohuwato.
Secara umum,
pelaksanaan kegiatan Tahun Anggaran 2025 dapat dikategorikan berjalan baik, dan laporan ini
diharapkan dapat menjadi referensi dalam penyusunan strategi peningkatan
kinerja serta perencanaan pembangunan pada tahun-tahun berikutnya. (Pohuwato, 10/12/2025) - Asman Najamuddin
#Desa